Kongres Tahunan Bukan Solusi Masalah Dualisme Kompetisi
Kompetisi Liga Prima Indonesia (IPL) dan Liga Super Indonesia (ISL) sudah berjalan, keduanya mengklaim sebagai kompetisi sepakbola level tertinggi di Indonesia juga saling klaim sebagai wujud dari kompetisi yang profesional. Dualisme kompetisi ini merupakan pengulangan apa yang terjadi musim lalu, sekedar mengingatkan, musim lalu Liga Primer Indonesia (LPI) digulirkan dan di saat bersamaan pula Liga Super Indonesia terus berjalan. Musim lalu tiga klub (Persibo Bojonegoro, Persema Malang dan PSM Makassar) memilih mengikuti LPI dan menyisakan 15 klub yang masih bertahan di ISL. Sedangkan musim ini dari 24 klub yang direncanakan mengikuti IPL, hanya separuhnya yang masih bertahan.
Banyak yang menilai adanya dua kompetisi level tertinggi di Indonesia menyebabkan kemunduran sepakbola Indonesia, namun saya berpikir lain bahwa sebetulnya dengan adanya dua kompetisi ini akan semakin menambah khasanah persepakbolaan nasional. Akan tetapi tentu saja bukan dua kompetisi yang masing-masing mengklaim sebagai kompetisi level tertinggi di dalam organisasi yang sama. Kompetisi akan semakin semarak apabila keadaannya seperti musim lalu dimana LPI berada di luar organisasi PSSI dan menginduk kepada Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI), sedangkan PSSI memiliki kompetisi sepakbola resmi sendiri.
Menariknya, PT. Liga Indonesia (PT. LIGA) sebagai penyelenggara ISL tetap bersikukuh berada dalam lingkungan organisasi PSSI, inilah yang membuat keruwetan kompetisi sepakbola Indonesia terjadi. Seandainya PT. LIGA memilih untuk menggelar kompetisi di luar PSSI (kompetisi mandiri), permasalahan sebetulnya tidak akan terlalu rumit. Hanya saja konsekuensinya adalah klub yang berpartisipasi dalam kompetisi mandiri di luar PSSI sewajarnya tidak bisa mendapatkan dana dari APBD termasuk APBD Perubahan tahun 2011 ini, serta klub yang berpartisipasi tidak bisa mengikuti kompetisi di level Asia dan Dunia yang deselenggarakan oleh AFC maupun FIFA.
PT. LIGA sendiri telah mengklaim bahwa kepemilikan saham mereka sudah berubah, dimana sebelumnya PSSI memiliki saham 99% dan 1% menjadi milik Yayasan Sepakbola When I M 64, kini menjadi 99% milik klub dan 1% milik PSSI. Klaim inilah yang menjadi daya tarik bagi klub-klub untuk berpartisipasi dalam ISL yang diselenggarakan PT. LIGA meskipun terdapat pula alasan-alasan lain yang membuat klub tetap setia mengikuti ISL. Klaim PT. LIGA ini sebenarnya bertolak belakang dengan surat dari Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) bernomor AHU.2-AH.01.09-13649 dan bertanggal 29 November 2011 yang isinya menyatakan bahwa kepemilikan saham PT. LIGA belum berubah. Kalau mau berpedoman pada surat Kemenkumham tersebut, sepatutnya PT. LIGA tunduk kepada pemilik saham mayoritasnya yaitu PSSI dan patuh ketika PSSI mencabut mandatnya sebagai penyelenggara kompetisi sepakbola profesional di Indonesia.
Alangkah semakin terkejutnya ketika muncul pemberitan bahwa PT. LIGA menolak diaudit oleh auditor yang ditunjuk oleh PSSI dan semakin tercengang ketika PT. LIGA diberitakan hanya mau memberikan laporan pertanggung jawaban termasuk laporan keuangan kepada pengurus PSSI lama. Dalih bahwa pengurus PSSI lama yang memberikan mandat sebetulnya tidak masuk di akal bahkan oleh orang awam seperti saya sekalipun, mengingat mandat itu diberikan oleh organisasi bukan perorangan.
Kongres Tahunan Bukan Solusi!
PSSI sendiri sudah memberi tenggat waktu kepada PT. LIGA untuk melaporkan hasil audit mereka pada tanggal 5 Desember 2011 nanti yang nantinya akan ditindaklanjuti dengan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Persoalan mengenai kepemilikan PT. LIGA inilah kunci permasalahan dualisme kompetisi sepakbola di Indonesia, karena merekalah yang menyelenggarakan kompetisi meskipun mandatnya sudah dicabut oleh PSSI. Kepastian hukum mengenai PT. LIGA wajib segera dicapai untuk mencari solusi ke depan bagaimana kompetisi sepakbola Indonesia, bukan dengan menggelar Kongres Tahunan seperti yang diminta oleh beberapa pihak.
Kalaupun anggota PSSI ingin menggelar kongres untuk membahas mengenai dualisme kompetisi sepakbola di Indonesia bisa dilakukan melalui Kongres Luar Biasa (KLB), dimana agendanya sudah ditentukan jauh-jauh hari dan tidak bisa diubah. KLB ini bisa merupakan inisiatif Komite Eksekutif (EXCO) PSSI maupun permintaan dari 2/3 anggota PSSI. Seandainya PSSI menuruti kemauan anggota untuk menggelar Kongres Tahunan, bisa jadi akan menjadi bumerang mengingat agenda kongres bisa diubah apabila 2/3 peserta kongres menyetujuinya. Alhasil bukan menyelesaikan permasalahan dualisme kompetisi, bisa jadi Kongres Tahunan digiring menjadi agenda pemilihan kepengurusan PSSI seperti yang terjadi pada tahun 2007 yang diselenggarakan di Makassar dimana awalnya diagendakan untuk meratifikasi Statuta PSSI dibelokkan menjadi ajang pemilihan Ketua Umum PSSI. Pergantian pengurus bukanlah penyelesaian dari masalah persepakbolaan di Indonesia saat ini.
Oleh karena itu, sekali lagi, satu hal yang semestinya segera diselesaikan oleh PSSI terkait dualisme kompetisi sepakbola di Indonesia adalah mendapatkan kepastian tentang kepemilikan PT. LIGA. Apabila PT. LIGA juga mempunyai bukti kuat bahwa pemindahan kepemilikan saham sudah sah menurut hukum juga wajib segera dibuka sehingga solusi bisa segera ditemukan. Seandainya penyelesaian sengketa harus dilakukan melalui jalur hukum perdata pun wajib segera dilakukan karena kunci permasalahan ada disini. Entah nantinya PT. LIGA mempunyai kepastian hukum untuk menyelenggarakan breakaway league seperti yang terjadi di Inggris atau klub-klub membentuk PT baru untuk menggelar kompetisi mandiri hingga PSSI merangkul kembali kompetisi tandingan tersebut, itu urusan lain.
Siapapun pencinta sepakbola Indonesia tentu tidak ingin masalah yang ada ini terus berlarut-larut kecuali memang hanya punya niat merusak kondisi persepakbolaan Indonesia. Penegakkan aturan jauh lebih penting daripada sekedar klaim. Semoga tidak ada keraguan dari PSSI untuk bisa mendapat kepastian hukum terkait status PT. LIGA, dan semoga permasalahan yang melanda persepakbolaan Indonesia ini segera ditemukan solusinya.
*) Lourensius Indra
owner bicarabola.com
Tags: breakaway league, IPL, ISL, kongres tahunan, Liga Prima Indonesia, liga super Indonesia, PT Liga Indonesia, PT. LPIS, sepakbola Indonesia, solusi

























