Suporter Dan Tim Nasional Sepakbola Indonesia
Sepinya Stadion Utama Gelora Bung Karno kala Indonesia menjamu Iran dalam ajang Kualifikasi Piala Dunia 2014 Zona Asia Grup E sungguh sangat menyedihkan. Memang tidak ada yang bisa memaksa suporter datang ke stadion untuk mendukung tim kesayangannya terutama ketika tim kesayangannya kalah terus. Suporter mungkin akan memilih menonton langsung timnas U-23 di ajang Sea Games 2011 yang sedang mendapatkan hasil bagus dengan kemenangan beruntun. Kembali hal ini tidak dapat disalahkan, ada berbagai faktor yang bisa menjadi penyebab. Namun kita harus ingat bahwa dukungan bukan hanya ketika tim kesayangan kita menang, namun jauh lebih penting untuk mendukung ketika tim kesayangan kita kalah, itulah yang disebut dengan suporter, penyemangat.
Apa yang diucapkan Carlos Queiroz, Pelatih Iran, terkait sepinya dukungan untuk timnas Indonesia ada benarnya juga. Queiroz berucap “Saya sampaikan pesan kepada fans Indonesia, dukunglah tim saat menang maupun kalah, karena para pemain ingin menampilkan yang terbaik untuk mereka. Sikap ini tidak seharusnya terjadi,”. Hal ini bertolak belakang dengan apa yang disampaikan pemimpin redaksi sebuah media nasional jelang pertandingan timnas Indonesia melawan Iran dalam twitternya yang menulis “Ya, Tapi timnas senior sdh nomor buncit. Nggak perlu didukung lagi”. Apakah kita harus diajari orang asing dalam memberikan dukungan kepada duta-duta bangsa kita?
Lebih miris lagi ketika sebagian masyarakat membandingkan kualitas timnas saat ini dengan permainan timnas saat Piala AFF 2010 yang lalu. Jelas berbeda kualitas lawan yang dihadapi, dan apakah benar permainan Indonesia sudah sangat superior pada saat Piala AFF 2010? Kalau itu ditanyakan kepada saya, akan langsung saya jawab tidak! Tanpa ingin mengesampingkan perjungan para pemain Indonesia saat itu, pemberitaan medialah yang seolah menjadikan timnas Indonesia saat Piala AFF 2010 sangat superior. Bahkan Bambang Pamungkas, kapten timnas Indonesia, mewanti-wanti agar media jangan terlalu mengekspos kemenangan beruntun timnas U-23 di ajang Sea Games 2011 kali ini supaya tidak terjadi antiklimaks seperti yang terjadi di ajang Piala AFF 2010.
Sebagai pengingat, saat Piala AFF 2010 yang lalu Indonesia berhasil menjadi yang terbaik di babak penyisihan grup dengan mengalahkan Malaysia 5-1 di pertandingan pertama. Selanjutnya kemenangan 6-0 atas Laos membuat euforia kemenangan ada di masyarakat Indonesia, ditambah adanya fenomena Irfan Bachdim saat itu membuat masyarakat berbondong-bondong datang ke Stadion Utama Gelora Bung Karno. Media pun gencar memberitakan sepak terjang timnas Indonesia hingga timnas dibawa ke rumah salah satu pemimpin partai politik di Indonesia.
Permainan Indonesia mulai menunjukkan penurunan ketika melawan Thailand dengan kemenangan 2-1 lewat dua gol penalti Bambang Pamungkas, tidak terlihat superioritas permainan Indonesia di sini. Bahkan kita harus bersyukur karena dua partai semifinal dilangsungkan di Indonesia, melawan tim tanpa sejarah bagus sepakbola, Filipina, Indonesia hanya mampu menang tipis 1-0 di kedua laga semifinal. Dan puncak antiklimaks terjadi ketika kita kalah melawan Malaysia di partai final.
Mungkin suporter timnas Indonesia layak dijuluki dengan sebutan “Glory Hunter“, hanya akan mendukung timnya ketika meraih kemenangan. Fenomena ini akan terjadi ketika tim yang didukungnya meraih kemenangan atau ada pemain yang menjadi idola. Pendapat ini didukung dengan sepinya penonton di awal-awal pertandingan sepakbola Timnas -23 di Sea Games 2011, namun menjadi ramai ketika mampu mengalahkan Kamboja, Singapura dan yang teraktual Thailand. Masyarakat pun lantas menyanjung permainan timnas U-23.
Kembali menjadi pertanyaan, apakah benar permainan timnas U-23 Indonesia sudah superior dibandingkan lawan-lawannya? Kita masih harus menunggu, berdasarkan hasil yang telah diraih memang menggembirakan, namun melihat permainan timnas U-23 masih ada yang harus dibenahi. Di timnas U-23 Indonesia sangat bergantung pada kemampuan individual, belum terlihat kerjasama yang baik. Lini tengah masih sering memberikan umpan lambung ke depan sambil berharap ada keberuntungan dan kemampuan individu pemain seperti Patrich Wanggai maupun Titus Bonai.
Permainan timnas U-23 Indonesia belum teruji sepenuhnya. Menghadapi Kamboja kita boleh menang telak, namun ketika unggul jumlah pemain menghadapi Singapura dan Thailand para pemain garuda muda Indonesia belum bisa memanfaatkannya. Indonesia tak mampu mencetak gol di babak kedua menghadapi Singapura, dan harus kebobolan menghadapi 10 orang pemain Thailand. Inilah yang harus dicermati.
Semestinya memang suporter tetap mendukung tim kesayangannya baik menang ataupun kalah. Timnas U-23 yang sedang berjuang meraih emas Sea Games 2011 pun sangat butuh dukungan dari para suporter yang sering disebut sebagai pemain ke-12. Namun membandingkan dengan masa lalu, atau memuji setinggi langit tanpa melihat kenyataan yang ada bukanlah sebuah dukungan yang bijak. Masa lalu menjadi bahan pembelajaran, hadapi apa yang ada saat ini dan tatap masa depan. Mari menjadi suporter yang sesungguhnya.
*) Lourensius Indra (owner bicarabola.com)
email : lourensius.indra@gmail.com
Tags: glory hunter, Kualifikasi Piala Dunia 2014, Sea Games 2011, sepakbola, suporter, Tim Nasional Indonesia























