Final Piala Indonesia 2010 Ternoda!
Final Piala Indonesia 2010 yang berlangsung di Stadion Manahan, Solo, ternoda dengan adanya penundaan selama satu jam lebih sebelum babak kedua dimulai. Polemik yang menyebabkan adanya penundaan lebih disebabkan karena adanya intepretasi mengenai kepemimpinan wasit Jimmy Napitupulu. Kartu merah yang didapat oleh Noh Alam Shah dianggap sebagai wujud ketimpangan keadilan wasit dalam pertandingan final ini.
Penilaian kepemimpinan wasit sebenarnya merupakan domain kewenangan dari pengawas pertandingan (PP). Apabila terjadi protes pun semuanya harus melalui meja pengawas pertandingan yang selanjutnya akan dilampirkan dalam laporan pertandingan dan ditindaklanjuti dengan investigasi mengenai kepemimpinan wasit yang bisa dilakukan dengan memutar ulang rekaman pertandingan atau bentuk investigasi lainnya.
Di dalam sebuah lapangan pertandingan, kewenangan keputusan wasit sifatnya mutlak dan tidak bisa diganggu gugat, bahkan dalam Manual Liga dan setiap menjelang pertandingan selalu diingatkan bahwa yang berhak memprotes pada saat pertandingan berlangsung hanya kapten tim.
Aturan nomor 5 Law Of The Game FIFA mengenai wasit disebutkan “Each match is controlled by a referee who has full authority to enforce the Laws of the Game in connection with the match to which he has been appointed.” yang dapat diartikan sebagai “Setiap pertandingan dikendalikan oleh seorang wasit yang memiliki otoritas penuh untuk menegakkan Aturan Permainan sehubungan dengan pertandingan dimana ia telah ditunjuk untuk memimpin pertandingan.” Selanjutnya FIFA juga memberikan petunjuk dalam Aturan Pertandingannya “The decisions of the referee regarding facts connected with play, including whether or not a goal is scored and the result of the match, are final.” atau dalam Bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai “Keputusan wasit mengenai fakta yang berhubungan dengan pertandingan, termasuk gol atau tidak dan hasil pertandingan, bersifat final.”
Inilah yang sebenarnya harus dipahami semua komponen yang terlibat dalam sebuah pertandingan sepakbola. Kita harus berkaca pada apa yang terjadi dalam Piala Dunia 2010 kemarin ketika gol Frank Lampard ketika menghadapi Jerman tidak dianggap gol sedangkan gol Carlos Teves ke gawang Meksiko yang berbau offside tetap disahkan oleh wasit. Kedua pertandingan tersebut tetap berjalan hingga usai, dan hanya FIFA yang berhak memutuskan hukuman apa yang dapat diterapkan untuk wasit yang salah mengambil keputusan.
Apa yang terjadi dalam final Piala Indonesia 2010 malam tadi merupakan sebuah kelucuan, kalau benar seandainya penundaan dimulainya babak kedua pertandingan final tersebut dikarenakan adanya intepretasi mengenai keputusan kepemimpinan wasit. Mari kita belajar lagi mengenai sepakbola.
Posted In: Opini Sepakbola, Sepakbola Nasional |Tags: final Piala Indonesia 2010, intervensi pertandingan, kartu merah Noh Alam Shah

























kebetulan aku nonton tadi malem, ditribun bang, saksi kekurang dewasaan sebagian suporter yang ada, g habis pikir wasit yang bagus dan tegas dalam memimpin kok mau diganti,denger-denger yang nyuruh kapoldanya lagi.. hahaaa,kapan indonesia bisa dewasa soal sepakbola… hmmmff…
Inilah anehnya sepakbola Indonesia, kalau anda ingat kasus PSIS lawan Persijap di Stadion Jatidiri, Semarang, pada 15 Februari 2009, pertandingan harus diulang karena adanya intervensi pihak lain… Kalau sesuai aturan, Laga final Piala Indonesia 2010 kemarin juga harus diulang…tapi ya inilah potret buruknya manajemen sepakbola Indonesia…