Sepakbola Indonesia dan Piala Dunia 2010
Spanyol mengukuhkan diri menjadi juara dunia dalam perhelatan Piala Dunia 2010 setelah mengalahkan Belanda 1-0 dalam perpanjangan waktu. Gol semata wayang dari Andres Iniesta membuat masyarakat Spanyol bangga atas prestasi tim sepakbolanya. Pesta bola dunia usai sudah, namun bagi pencinta sepakbola Indonesia masih ada sebuah pertanyaan besar yang masih mengganjal, kapan Indonesia berpartisipasi di ajang Piala Dunia?
Sebuah pertanyaan klasik yang belum juga ditemukan jawabannya. Begitu banyak problematika yang dihadapi sepakbola seolah menjadi tembok besar prestasi sepakbola Indonesia. Kalau boleh jujur, sebenarnya apa yang menjadi hambatan perkembangan sepakbola Indonesia digali sendiri oleh masyarakat sepakbola itu sendiri. Mulai dari suporter hingga PSSI sebagai penggerak as roda sepakbola nasional belum mau berubah untuk bergerak memajukan sepakbola Indonesia.
Apa buktinya? Suporter masih cenderung berperilaku fanatisme sempit sehingga sering terjadi tindakan-tindakan anarkis yang merugikan sepakbola Indonesia, sedangkan PSSI beberapa kali membuat kebijakan yang membuat sepakbola Indonesia bergerak mundur ke belakang. Kongres Sepakbola Nasional (KSN) yang diadakan di Malang beberapa waktu lalu belum juga membuat adanya perubahan pada sepakbola Indonesia, suporter masih berulah dan kebijakan PSSI masih juga belum mencerminkan adanya semangat untuk berubah.
Paling mutakhir adalah kasus Liga Super Indonesia (ISL) yang belum juga selesai karena tidak sinkronnya keputusan yang diambil oleh Komisi Disiplin PSSI dan Komisi Banding PSSI, bahkan sebelumnya FIFA pun harus turun tangan menyelasikan polemik di kompetisi Divisi Utama dengan mengirim surat peringatan kepada PSSI terkait pengurangan nilai terhadap Persikabo Bogor dan Persisam Putra Samarinda. Kompetisi yang notabene merupakan kawah candradimuka bagi pesepakbola nasional tak dikelola dengan baik, bagaimana mungkin mengharapkan lahirnya pemain hebat dan profesional di Indonesia.
Pembelajaran Dari Piala Dunia 2010
Piala Dunia 2010 memang terjadi beberapa keputusan kontroversial dari sang pengadil pertandingan, tidak disahkannya gol Frank Lampard ketika menghadapi Jerman dan offside Carlos Teves yang tak dianggap ketika menghadapi Meksiko, menjadi bumbu pertandingan di samping kejadian-kejadian lainnya. Namun secara garis besar pertandingan tetap berjalan lancar, bayangkan saja apa yang terjadi bila keputusan wasit tersebut terjadi di kompetisi ISL atau kompetisi lain di Indonesia, mungkin saja sudah terjadi amuk massa. Pemain, suporter dan manajemen klub harus belajar untuk memahami aturan pertandingan dan memaklumi kelemahan mata wasit supaya sepakbola itu berjalan pada jalurnya. Wasit pun harus belajar dari kasus gol Carlos Vela yang dianulir wasit Ravshan Irmatov, dimana wasit begitu memahami aturan permainan sehingga mampu memberikan keputusan yang tepat.
Pelajaran lain adalah rontoknya Perancis dan Italia di babak penyisihan grup serta tersingkirnya Inggris di perdelapan final, kompetisi kelas dunia pun tak mampu menjamin datangnya sebuah prestasi, klub yang terlalu banyak memakai jasa pemain asing menjadi biang keladi dari kegagalan Italia dan Inggris sedangkan faktor ketidakpercayaan pada pelatih menjadi penyebab utama rontoknya Perancis di babak awal. Belajar dari Spanyol yang menjadi juara dunia, kompetisi di Spanyol memang kalah mentereng di banding Liga Inggris (Premiere League) maupun Liga Italia (Serie A), namun pembinaan yang bagus dari klub-klub Spanyol membuat tim nasional mereka menjadi kuat. Barcelona melahirkan pemain-pemain seperti Xavi, Carlos Puyol, hingga si pencetak gol kemenangan Spanyol di final, Andres Iniesta. Real Madrid pun meski menggelontorkan uang dalam jumlah besar untuk membeli pemain bintang masih mampu membina pemain-pemain mereka seperti kapten Spanyol, Iker Casillas hingga Sergio Ramos. Bahkan pemain terbaik dunia, Lionel Messi, pun merupakan hasil pembinaan klub Barcelona meski Messi pada awalnya dianggap mempunyai kekurangan pada tubuhnya.
Bagaimana dengan kompetisi di Indonesia? Kuota lima pemain asing patut dipertanyakan, sisi bisnis dan hingar bingar kompetisi memang harus dijaga, namun yang paling utama adalah pembinaan karena tujuan utama kompetisi adalah pembinaan. Kompetisi di Indonesia yang dianggap salah satu yang terbaik di Asia pun juga harus dipertanyakan, kalau yang dinilai adalah kuantitas memang kompetisi ISL sudah ideal, namun dari carut marutnya kompetisi di Indonesia harus ada berbagai pembenahan dan jangan sampai kompetisi disusupi kepentingan lain di luar sepakbola.
Sepakbola Indonesia memang harus segera berbenah untuk bisa mengimbangi negara-negara kuat sepakbola di dunia, sumber daya manusia melimpah dengan lebih dari 200 juta penduduk Indonesia. Yang paling penting adalah pengelolaan sepakbola itu sendiri, dan prajurit terdepan dalam pengelolaan sepakbola adalah PSSI dibantu dengan komponen-komponen lain dalam masyarakat untuk bisa memajukan sepakbola Indonesia. Buku Putih Reformasi Sepakbola Indonesia sudah diberikan oleh Gerakan Reformasi Sepakbola Nasional Indonesia (GRSNI) kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, kita harapkan adanya perubahan untuk memajukan sepakbola Indonesia. Namun ada yang menggelitik dalam diri saya ketika membaca berita penyerahan Buku Putih Reformasi Sepakbola Indonesia, mengapa diberikan kepada pemerintah yang notabene tidak bisa mengintervensi kebijakan dalam sepakbola, mengapa tidak diberikan kepada PSSI yang merupakan pengambil kuputusan dan organisasi independen yang mengelola sepakbola Indonesia? Apakah memang PSSI sudah tidak memiliki kepercayaan dari publik sepakbola? Ada tugas khusus bagi wakil rakyat di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk mempertanyakan mengapa rakyat sudah kehilangan kepercayaan kepada PSSI, sepakbola adalah milik rakyat bukan milik pengurus PSSI, oleh karena itu sangat wajar apabila DPR mempertanyakan nasib sepakbola Indonesia kepada PSSI.
Mengutip kata-kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, “Saya mengajak KONI, PSSI, dunia usaha, pemerintah, dan parlemen. Mari kita bersinergi untuk memajukan sepakbola kita.”, maka marilah kita memposisikan diri sesuai dengan tugas, kewenangan dan kemampuan kita untuk membentuk sepakbola Indonesia yang jauh lebih baik.
*) ingin menulis untuk bicarabola.com? Kirimkan artikel anda ke : admin@bicarabola.com atau lourensius.indra@gmail.com
Posted In: Opini Sepakbola, Sepakbola Nasional |Tags: memajukan sepakbola indonesia, Piala Dunia 2010, sepak bola indonesia, spanyol juara























