Ironi Inggris, Italia, dan Perancis
Menyaksikan laga Inggris, Perancis, dan Italia di Piala Dunia 2010 sungguhlah miris. Perancis dan Italia gagal di penyisihan grup sementara Inggris dikalahkan Jerman dengan skor telak 4-1 di Perdelapan Final. Jika ada ungkapan bahwa pemain nasional dicetak oleh tempaan Liga domestik, maka ungkapan ini mungkin menjelaskan kenapa ketiga negara ini gagal mencetak prestasi tinggi di Piala Dunia 2010.
Saat ini ada 121 pemain (16,6%), dari 25 negara (hanya ada 7 negara yang pemainnya tidak tampil di Liga Inggris-admin) yang berlaga di Piala Dunia 2010, dikontrak oleh sejumlah klub Premiership atau Championship di Liga Inggris. Artinya ada sekitar 88 pemain non-Inggris yang dikontrak oleh klub-klub Inggris dan kini berlaga di Piala Dunia 2010. Amerika Serikat misalnya, memiliki 7 pemain nasional yang berlaga di Liga Inggris, sedangkan Aljazair memiliki 3 pemain. Tidaklah mengejutkan kalau kedua Negara ini sanggup mengimbangi gaya permainan Steven Gerrard dan kawan-kawan. Mereka sudah memiliki cukup “informasi” untuk membaca gaya permainan tim Inggris. Selain dari Liga Inggris, di Piala Dunia kali ini ada 81 pemain (11,14%) yang berlaga di Liga Jerman, 75 pemain (10,3%) dari Liga Italia, 59 pemain (8,12%) dari Liga Spanyol, dan 40 pemain (5,5%) dari Liga Perancis.
Tingginya jumlah “pemain asing” di liga Inggris, Italia, dan Perancis, jelas berdampak pada seleksi pemain tim nasional. Jika ditilik sejak Piala Dunia 2006, Inggris tidak memiliki penjaga gawang tangguh dan striker yang mematikan. Kondisi yang sama terlihat di kubu Italia dan Perancis. Marcello Lippi seakan kehabisan stok pemain sehingga mengandalkan pemain-pemain gaek macam Cannavaro, Di Natale, Buffon, dan Gattuso. Tim nasional Perancis juga setali tiga uang, sekalipun diperkuat oleh Anelka, Malouda, Henry, dan Ribbery. Perancis tidak memiliki penjaga gawang tangguh dan pemain kharismatik yang dapat menjadi ruh tim nasional seperti Barthez, Laurent Blanc, atau Zidane. Pemain-pemain Perancis dari Liga Domestik sendiri nyaris hanya menjadi penonton di bangku cadangan.
Apa yang terjadi pada Inggris, Italia, dan Perancis, dapat menjadi pelajaran bagi Indonesia menjelang bergulirnya Liga Super Indonesia 2010/2011 dan persiapan tim nasional SEA Games 2011. Kuota pemain asing yang kini berjumlah 5 orang sedikit banyak berpengaruh pada performa pemain-pemain lokal yang menopang tim nasional. Kita beruntung masih memiliki stok kiper-kiper tangguh, namun krisis pemain bertahan, gelandang, dan penyerang, di tim nasional tidak lagi dapat ditutupi. Kehadiran pemain asing tentunya menjadi LSI semarak dengan atraksi dan tontonan skill berkualitas. Akan tetapi, janganlah kehadiran pemain asing kemudian menjadi candu yang menggerogoti kualitas tim nasional demi rupiah semata. Mungkin ini saatnya bagi PSSI dan BLI untuk meninjau ulang kuota pemain asing di Liga Super Indonesia. (*)
Penulis: Yoseph Anggoro (kontributor freelance bicarabola.com)
Posted In: Opini Sepakbola, Sepakbola Dunia |Tags: England, France, Italy, liga domestik, pemain asing, tim terburuk di piala dunia 2010























