Sarasehan Sepakbola Nasional
Ditulis Oleh :
Lourensius Indra
(email : lourensius.indra@gmail.com)
Ketika bertemu dengan pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) akhir Januari lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menggagas sebuah acara untuk menyelamatkan sepakbola Indonesia dari keterpurukan yang semakin dalam. Rencananya gagasan ini akan segera direalisasikan pertengahan Maret mendatang di Malang, Jawa Timur, yang dijadwalkan juga akan dihadiri oleh Presiden SBY.
“Acara ini pertemuan para stakeholder sepak bola nasional agar kita bisa mengulang kejayaan sepak bola di masa lalu. Ini bentuk kepedulian Bapak Presiden untuk meningkatkan prestasi tim nasional,” kata Andi Mallarangeng (kompas.com). Meskipun acara ini hanya bertajuk sarasehan namun hendaknya segala permasalahan mengenai sepakbola Indonesia bisa segera dicari pemecahannya, termasuk kemungkinan suksesi terhadap kepengurusan organisasi PSSI.
PSSI sebaiknya tidak lantas ketakutan untuk menghadapi sarasehan ini, toh semua tujuannya adalah membangun persepakbolaan Indonesia yang lebih baik. Kalau pun nantinya ada wacana mengenai suksesi harus disikapi dengan bijak dan lapang dada, karena prestasi sepakbola Indonesia bukan hanya milik PSSI, masyarakat Indonesia juga berhak atas prestasi sepakbola nasional.
Perlukah Wacana Pergantian Pengurus?
Kepengurusan di bawah era Nurdin Halid sudah berjalan selama kurang lebih 7 tahun (2003-2007, 2007-2011), masyarakat sudah memberikan waktu dan kesempatan kepada kepengurusan PSSI di bawah kendali Nurdin Halid untuk membawa sepakbola Indonesia menuju puncak kejayaan. Adalah sangat wajar apabila masyarakat sudah mulai jengah dan berharap adanya suksesi di tubuh PSSI supaya ada perubahan menuju perbaikan.
Apalagi media sudah memberitakan rumor bahwa Nurdin Halid akan mengundur Musyawarah Nasional (Munas) yang mempunyai agenda pergantian Ketua Umum PSSI. Munas ini sejatinya sudah harus dilaksanakan pada April 2011, namun Nurdin Halid ingin mengundurnya hingga usai Sea Games 2011 yang akan berlangsung di Indonesia pada akhir tahun 2011.
Entah apa yang dijanjikan oleh Nurdin Halid sehingga pengurus PSSI saat ini dan mereka yang memiliki hak untuk memilih Ketua Umum PSSI di dalam munas begitu loyal. Apa yang membutakan para pemilih ini dari kondisi persepakbolaan Indonesia saat ini dan tidak bisa mendengar lagi aspirasi masyarakat. Sungguh sebuah ironi dalam pentas sepakbola nasional.
Alasan inilah yang menjadikan wacana suksesi sangat penting di dalam sarasehan nanti. Pemilihan Ketua Umum PSSI adalah hak peserta munas, namun setidaknya ada kesepakatan dalam sarasehan nanti bahwa tidak ada pengunduran jadwal munas karena tidak ada urgensinya, malah sudah menyalahi aturan. Apakah kita ingin PSSI mendapat sorotan dan teguran lagi dari badan organisasi sepakbola internasional (FIFA).
Belajarlah Dari Negeri Cina
Sarasehan sepakbola nasional nanti sangat diharapkan oleh masyarakat membawa angin segar bagi sepakbola di Indonesia, terutama dari sisi prestasi. Prestasi memang tidak bisa diwujudkan secara instan, perlu proses sehingga wajar apabila Andi Mallarangeng berharap adanya masukan konkret dalam sarasehan tersebut dengan sasaran 5, 10 hingga 15 tahun ke depan.
Untuk mencari sebuah pemecahan masalah, perlu dicari dulu penyebab masalahnya, dengan kata lain dalam sarasehan nanti bukan sebatas berbicara mengenai mimpi dan angan-angan. Evaluasi terhadap apa yang sudah dan sedang terjadi di dalam sepakbola Indonesia mutlak diperlukan dalam salah satu agenda kegiatan sarasehan nanti. Evaluasi jangan lalu dianggap sebagai wujud intervensi, akan tetapi lebih kepada bagaimana memetakan permasalahan supaya solusi dapat tepat sasaran.
Fenomena kasus suap bisa menjadi pembahasan tersendiri, meski sudah ada satuan tugas (satgas) pencari fakta kasus suap tetapi dengan adanya sarasehan ini diharapkan pihak yang mengetahui adanya fakta dalam kasus ini bisa mengemukakannya tanpa ada rasa takut dan canggung. Kasus suap perlu menjadi perhatian khusus karena suap sangat merusak mental mulai dari pemain, pengurus klub hingga regulatornya sendiri. Faktor mental inilah yang sering disinggung menjadi penyebab kegagalan tim nasional untuk berprestasi.
Kita bisa belajar permasalahan ini dari kasus yang menimpa ketua federasi sepakbola Cina, dimana terkuak adanya kasus pengaturan skor. Kalau perlu beberapa kejadian dan keputusan kontroversial PSSI di masa lalu perlu dibuka kembali, kalau ada kesalahan prosedur dan pengingkaran aturan, oknum yang terlibat bisa dijerat hukuman supaya tidak terulang di masa depan.
Permasalahan dalam sepakbola Indonesia memang sudah sangat rumit, ditambah aturan yang mudah ditabrak oleh pelaku sepakbola sendiri sehingga di dalam sarasehan nanti diperlukan pula pembahasan yang komprehensif. Sungguh naif apabila berharap adanya keputusan di dalam sarasehan sepakbola nasional nanti, tetapi setidaknya bisa dicapai kesepakatan-kesepakatan penting untuk membawa sepakbola Indonesia menjadi lebih baik.
Posted In: Opini Sepakbola, Sepakbola Nasional |Tags: kasus suap, PSSI, Sarasehan Sepakbola Nasional, sepakbola Indonesia, suksesi pengurus

























sudah waktunja pssi berbenah dan mengadakan perubahan untuk bisa maju dan berbicara di kawasan asia ….. ayo tunggu apalagi benahi pengurus pssi
Target sasaran ditemukan. Tembaaak!