Menanti Hasil Kongres PSSI
“Jangan tanya kepada saya kenapa Indonesia kalah, tapi tunjukkan kepada saya bagaimana Indonesia bisa menang”, sebuah ungkapan lepas tanggung tanggung jawab, keputus-asaan atau wujud semangat untuk maju. Anda yang dapat menilainya, namun kata-kata inilah yang sedang menjadi trend di dalam kepengurusan PSSI.
Ajakan untuk membangun sepakbola Indonesia, inilah kesan yang ditangkap oleh bicarabola. Masyarakat pun sebenarnya juga sudah mencoba untuk terus memberi masukan dan kritik terhadap PSSI, masih ada masyarakat yang peduli terhadap sepakbola Indonesia. Kekecewaan terhadap prestasi sepakbola Indonesia belum melunturkan semangat masyarakat untuk mendukung olahraga rakyat ini.
Jadi kalau ada ungkapan, berapa persen masyarakat sepakbola yang menginginkan Ketua Umum PSSI saat ini mundur, mungkin saja sebagian besar masyarakat yang menginginkan hal tersebut terjadi. Hendri Mulyadi sudah mengindikasikan hal tersebut, bukannya dicemooh terhadap aksinya masuk lapangan, dia malah mendapat berbagai macam dukungan.
PSSI mungkin lupa bahwa kepengurusan saat ini sudah berusia 3 tahun (bahkan Nurdin Halid sudah berkuasa di PSSI selama 7 tahun sejak tahun 2003), sudah menghasilkan apa selama tiga tahun ini. Prestasi apa yang sudah dapat dicapai? Kalau hal ini ditanyakan kepada bicarabola, kesuksesan penyelenggaraan Piala Asia 2007 disertai aksi heroik pemain di lapangan saat itu merupakan satu-satunya nilai bagus kepengurusan PSSI saat ini.
Kompetisi Sebagai Pembinaan Itu Penting
Pembinaan sepakbola memang membutuhkan proses, namun diantara proses itu mesti ada sasaran loncatan sebelum menuju sasaran utama. Tidak akan mungkin Indonesia akan juara Piala Dunia secara tiba-tiba. Bagaimana mau juara Piala Dunia, di level Asia Tenggara saja Indonesia saat ini berada di kasta kedua. Kalau PSSI berkilah prestasi membutuhkan proses, kenyataannya proses itu belum berjalan hingga saat ini, lalu menunggu hingga kapan lagi?
Program pelatnas jangka panjang hanya merupakan upaya instant menciptakan prestasi, lebih baik jalankan roda kompetisi sebaik mungkin, kompetisi yang profesional harus benar-benar profesional. Kompetisi adalah produk PSSI, jadi jangan salahkan pemain produk kompetisi buruk yang tak mampu menghasilkan prestasi tim nasional. Tugas PSSI lah menciptakan kompetisi yang baik sehingga menciptakan pemain yang tangguh pula.
Kompetisi usia dini memang penting, namun jangan lupakan kompetisi untuk pemain senior. Tanpa kompetisi sepakbola, darimana pemain-pemain Indonesia tercipta? Darimana pelatih tim nasional akan bisa memantau perkembangan pemainnya? Menghentikan atau memampatkan kompetisi untuk pelatnas jangka panjang adalah mencari prestasi instant yang mengkerdilkan kualitas pemain.
Jangan Kecewakan Masyarakat Lagi
Kalau memang kepengurusan PSSI saat ini sudah tidak bisa diganggu gugat, tentu harus bisa membuktikan kalau PSSI masih punya hasrat untuk memajukan sepakbola Indonesia. PSSI harus segera berbenah dan bergerak cepat karena tinggal dua tahun lagi kepengurusan PSSI saat ini berakhir. Bukan sekedar mengumbar janji, namun lebih kepada aksi nyata.
Bukan pula PSSI harus menggelar acara “PSSI Move On” yang disiarkan secara tunda di Antv, malam ini (17 Januari 2010). Acara yang berdurasi hampir satu jam ini menurut bicarabola hanya sebuah unjuk program saja, yang lebih penting adalah kerja nyata, bukan konsep di atas kertas. Biaya untuk mengundang artis dan cewek-cewek cantik serta biaya-biaya lainnya yang diperkirakan mencapai puluhan juta hingga ratusan juta belum tentu bisa memacu prestasi sepakbola nasional.
Pekerjaan rumah lain yang mesti segera diselesaikan oleh PSSI adalah segera membentuk tim nasional yang tangguh untuk berbagai ajang tahun ini. Mulailah dengan menunjuk pelatih baru, jangan menunggu hingga usai pertandingan melawan Australia. Biarkan tim pelatih menilai kapasitas pemain dan meraba strategi permainan saat melawan Australia. Jangan nanti ini dijadikan kambing hitam kurangnya waktu persiapan.
Layak ditunggu, kinerja seperti apa yang dilakukan PSSI setelah kongres tahunan di Bandung. Dan beranikah Ketua Umum serta pengurus PSSI mengadakan kongres luar biasa untuk ramai-ramai mengundurkan diri apabila tim nasional Indonesia kembali gagal di Piala AFF tahun ini? “Jangan tanya pada kami mengapa Indonesia selalu kalah, bertanyalah apa yang sudah anda lakukan di PSSI!”
Posted In: Opini Sepakbola, Sepakbola Nasional |Tags: komentar Nurdin Halid, Kongres PSSI, sepakbola Indonesia



















Nurdin tidak pernah memberikan prestasi apa pun selama rezimnya.. Kalo gagal, pelatih yg dipecat. Kapan ya beliau ini berani mengevaluasi dirinya sendiri..
Jawaban atas pertanyaan Nurdin;Tnjukkan bagaimna bis menang ?…tidak sulit bila mau kerja keras, dan profesional. Timnas harus mampu buat gol 2 – 3 gol ke gawang tim manapun, khususnya tim asia. cetak 1000 calon striker ala drogba-messi melalui klub/ssb yg bisa memproduksi pemain U17 yg benar2 standard. Ball skill setara anak2 seusia mereka di argentina/brasil/belanda. pengetahuan main bola modern memadai. juga olah tubuh yg prima, sebagian besar tinggi 178cm tapi yang pendek tapi istimewa ball skil boleh masuk. Nah, bila ini dicapai, terjunkan mereka di kompetisi U19/suratin dan U21 secara teratur, heboh, dan dg tingkat persaingan tinggi. Kompetisi ini bisa juga melalui LPI. Tidak perlu kirim anak2 ke Uruguay,,,tidk perlu pemda bikin diklat. Tapi dorong, fasilitasi, bantu dg matching grant, ssb, klub swasta yg mampu membuat sekolah sepakbola yg modern. Ada puluhan klub/ssb yg potensial utk dikembangkan. Tentu dg progam unggulan dan melalui tender terbuka dan terapkan good governance. Nah, disini kuncinya gaovernance, profesionalisme dan progam management harus diterapkan mutlak oleh pengurus PSSI yg muda2. Karena yg tua sudah kena penyakit kanker korupsi.
Sya siap berdiskusi, Nugget