Sepakbola Indonesia Sepakbola Indonesia
[19 May 2012 | No Comment | ]

Kemenangan atas Mauritania dengan skor 2-0 di pertandingan pertama Turnamen Internasional Palestina (Al-Nakba Cup) 2012 membuat tim nasional (timnas) Indonesia selangkah lagi lolos ke semifinal. Pada pertandingan terakhir di babak penyisihan grup, Indonesia akan menghadapi tim nasional Kurdistan. Kemenangan akan membawa Indonesia melangkah ke …

Read the full story »
Home » Opini Sepakbola

Budaya Instant (Lagi) Ala Badan Tim Nasional

8 January 2010 One Comment




Alibi dan budaya instant masih menjadi andalan. Setidaknya inilah yang tersirat dari komentar ketua BTN (Badan Tim Nasional), Rahim Soekasah yang saya baca dalam sebuah berita. “Saya inginnya pemain naturalisasi, agar bisa bangkit persepakbolaan kita dan mempunyai derajat yang tinggi. Selain itu akan kita cari pemain keturunan Indonesia yang bermain di luar negeri,” tegas Rahim. Sikap seolah lepas tangan dari tanggung jawab, dan mengagungkan budaya instant yang selama ini sudah dilakukan.

Wacana naturalisasi sudah sering didengungkan dalam bebarapa tahun terakhir dan jawabannya pun sudah pasti, sulit! Hanya anak (dibawah usia 21 tahun) yang bisa mendapatkan kewarganegaraan ganda, setelah itu tidak ada undang-undang di Indonesia yang memperbolehkan kewarganegaraan ganda, sesuai dengan Undang-Undang No. 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia.

Inilah yang menjadi permasalahan sejak wacana naturalisasi terbentuk. Yang terakhir tahun lalu, ketika pemain Belanda yang mempunyai darah Indonesia, Sergio van Dijk, ingin memperkuat tim nasional Indonesia terbentur dengan masalah kewarganegaraan ganda. Sergio nampaknya harus melupakan mimpinya tersebut karena tidak mau hanya berkewarganegaraan Indonesia saja karena alasan tertentu.

Naturalisasi Bukan Sebuah Solusi

Kalau ingin memakai pemain naturalisasi sebaiknya PSSI meminta dulu perubahan undang-undang kewarganegaraan di Indonesia, tanpa itu semua hanya omong kosong. Harap pula kita ingat bahwa tidak semua pemain keturunan Indonesia yang setidaknya pernah bermain di luar negeri mempunyai kemampuan yang lebih baik. Banyak contohnya, kalau kita ingat tentang Rigan Agachi dan kini Irvin Museng, pemain yang pernah digadang menjadi pemain hebat bagi indonesia karena berlatih di Belanda, kini hanya menjadi pemain di Divisi Utama Liga Indonesia. Atau keinginan Irfan Bachdim untuk bermain di Persija atau Persib merupakan sebuah gambaran bahwa kualitas para pemain tersebut biasa saja.

Kita tidak bisa mengharapkan seorang pemain hebat tiba-tiba datang dan bermain untuk Indonesia. Naturalisasi bukanlah sebuah solusi! Lebih baik investasikan dana untuk memperbaiki mental dan pembinaan pemain muda di Indonesia, itu lebih rasional daripada mengharapkan datangnya keajaiban. Apakah pengurus PSSI terutama Ketua BTN lupa akan hal ini? Atau memang perlu revolusi dalam tubuh PSSI, silahkan anda yang menilainya.

Posted In: Opini Sepakbola |

Tags: , ,

Infogue.com Infogue.com

One Response »

  • Saya punya usul utk BTN atau Manajemen PSSI,bagaimana kalau semua pemain utk kesebelasan PSSI kita nama2nya ditentukan atau dipilih langsung oleh Pelatih jd bukan Manajer yg menentukan karena kita punya pelatih yg handal spt Bp. Rahmad Darmawan beliau sdh 5 kali membawa kemenangan nama Sriwijaya FC dlm kejuaraan ISl,Copa dan Liga indonesia jd beliau lbh baik dari pelatih2 yg srg didatangkan dari Luar Negeri kita, god luck PSSI bravo bravo

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar....