Antara Sepakbola dan Kecerdasan
Sepakbola bukan hanya mengandalkan otot semata, kekuatan fisik tidak menjamin kemenangan dalam sebuah pertandingan. Disamping bentuk fisik yang ideal, seorang pemain sepakbola membutuhkan stamina, mental dan juga kecerdasan serta keberuntungan untuk memenangkan sebuah pertandingan.
Kadangkala bentuk fisik tidak selalu identik dengan prestasi dalam sepakbola. Lionel Messi salah satu contohnya, pemain terbaik dunia versi FIFA 2009 ini tidak memiliki tinggi tubuh yang menjulang dan massa otot yang besar, namun dia mampu tampil menjadi yang terbaik. Kenyataan ini seharusnya mampu menepis anggapan bahwa pemain sepakbola Indonesia yang tidak tinggi besar tak akan mampu berprestasi.
Salah satu elemen penting yang menunjang kekuatan dalam permainan sepakbola adalah kecerdasan. Sepakbola adalah permainan tim bukan individu sehingga kemampuan satu orang bukan jaminan keberhasilan. Cerdas disini adalah mampu berpikir dengan cepat dan tepat, kreatif dan bisa mengontrol emosi dengan baik.
Kecerdasan dalam Olahraga
Dalam sebuah buku yang ditulis oleh Howard Gardner (penulis buku Multiple Intelligence, salah satu direktur Project Zero di Harvard Graduate School of Education), menyebutkan bahwa salah satu kecerdasan yang dimiliki oleh manusia yaitu kecerdasan Kinestetis-Jasmani. Kecerdasan Kinestesis Jasmani merupakan keahlian menggunakan seluruh tubuh untuk mengekspresikan ide dan emosi. Kecerdasan ini meliputi kemampuan kemampuan fisik yang spesifik, seperti koordinasi, keseimbangan, keterampilan, kekuatan, kelenturan, dan kecepatan maupun kemampuan menerima rangsangan (proprioceptive) dan hal yang berkaitan dengan sentuhan (tactile&haptic).
Seorang manusia tidak hanya memiliki satu bentuk kecerdasan, namun juga memiliki dasar kecerdasan-kecerdasan lain. Hanya saja tidak semua kecerdasan yang dimiliki seorang manusia menonjol atau superior, mungkin hanya satu-dua kecerdasan yang menonjol dan bisa menjadi modal untuk mengarungi kehidupan, namun kecerdasan yang menonjol ini mesti dibarengi dengan kemampuan mengelola kecerdasan lain sehingga menjadi sebuah kecerdasan yang terintegrasi.
Kecerdasan yang seringkali lebih dikenal oleh masyarakat kebanyakan adalah IQ dan EQ serta satu lagi yang baru yaitu SQ. Ketiganya merupakan teori penilaian kecerdasan utama, yang sebenarnya tidak jauh berbeda dengan teori Howard. Antara IQ, EQ dan SQ kalau boleh disederhanakan akan menjadi potensi/bakat, perilaku(emosi) dan upaya/harapan. Ketiga hal ini jika mampu dintegrasikan dengan baik akan menjadi sebuah kemampuan yang maha dahsyat.
Atlet Andalan
Seorang atlet dianugerahi kelebihan dalam hal fisik dan tentunya dengan disiplin latihan mampu membuat stamina menjadi kuat, namun tanpa kecerdasan dalam mengolah talentanya ini, seorang atlet tidak akan menjadi apa-apa. Dalam sebuah tim (sepakbola, basket dll), kecerdasan lebih berperan karena berhubungan dan bekerjasama dengan atlet lain.
Indonesia sebenarnya sudah mampu mengintegrasikan antara olahraga dengan ilmu pengetahuan, sebuah program yang dicanangkan oleh kementerian olahraga dengan nama program atlet andalan (PAL). Dalam prinsip-prinsip pokok program PAL sesuai dengan konsep kecerdasan dalam olahraga yaitu aplikasi sportsciences, keterpaduan antara pelatihan fisik, teknik, taktik dan penyiapan mental juara, serta diberlakukannya sistem seleksi secara ketat dalam penerimaan atlet.
Bagaimana dengan sepakbola Indonesia? PSSI perlu mengadopsi program ini untuk meningkatkan performa dan prestasi sepakbola nasional. Dalam hal ini, klub juga menjadi bagian penting dan ujung tombak dalam pelaksanaan program ini. Pemilihan atlet dan pelatihan sejak usia dini harus terpadu dengan konsep pembinaan kecerdasan.
Dalam program ini tentunya bukan hanya soal fisik dan stamina saja yang menjadi tolak ukur namun juga kecerdasan. Klub sepakbola di Indonesia sebaiknya mampu melengkapi modul pelatihan pengembangan teknik, fisik dan stamina saja, namun juga mampu mengembangkan kecerdasan atlet. Berani mencoba?
Posted In: Opini Sepakbola |Tags: kecerdasan, prestasi, program atlet andalan, sepakbola Indonesia

























Bukti pemain Indonesia tidak cerdas adalah suka main asal buang bola oleh pemain belakang dan umpan silang yg ngawur. Orang yg mudah panik seperti itu bukan tipikal orang cerdas. Nice Article!
harus dibuktikan dl secara penelitian dan EBM (Evidence based medicine ) nya..Cara mengukur kecerdasan yg spesifik untuk sepakbola pake apa?apa tes IQ biasa?tes potensi akademik?Tes EQ? atau alat ukur nya apa?bisa tolong ditampilkan?