Mampukah Sepakbola Indonesia Berprestasi? (Bagian 4-terakhir)
lanjutan dari : Mampukah Sepakbola Indonesia Berprestasi? (Bagian 3)
E. Perbaikan Kualitas Pemain
Akibat dari melonjaknya nilai kontrak jelas sangat menguntungkan pemain. Seorang pemain berhak mendapatkan nilai kontrak besar, namun juga semestinya di sesuaikan dengan apa yang dapat diberikan pemain tersebut, bukan hanya memberikan kemenangan untuk klub namun juga kepada kontribusi lain seperti pemasukan keuangan klub misalnya.
Turunan dari nilai kontrak yang tinggi membuat pemain Indonesia cepat puas walau hanya bermain di Liga Indonesia. Dengan kemampuan pas-pasan toh masih ada yang mau mengontrak mereka dengan harga tinggi. Hal inilah yang membuat Indonesia baru bisa mengimpor pemain bola dengan uang rakyat, namun belum bisa mengekspor para pemain menjadi sumber devisa.
Yang lebih ironis, beberapa pemain yang keluar masuk timnas malah menjadi bagian dari “top 5 in trouble” dalam jumlah kartu kuning dan kartu merah yang dirilis oleh ligaindonesia.co.id (19 Desember 2009). Sikap mental inilah yang harus diperbaiki oleh PSSI dengan meningkatkan pula kualitas pengadil di lapangan serta menggandeng klub untuk mengelola kontrak lebih rasional.
F. Perbaikan Kualitas Perangkat Pertandingan
Perangkat pertandingan disini termasuk pengawas pertandingan, wasit, pemain, dan panitia penyelenggara pertandingan. Fungsi pengawas pertandingan bisa lebih dimaksimalkan, bukan hanya sekedar memberi laporan tertulis namun juga dapat berupa gambar visual sehingga mampu menjadi sebuah alat bukti ketika terjadi pelanggaran.
Sedangkan Panpel (Panitia Penyelenggara Pertandingan) harus dikelola dengan baik. Pengelolaan penjualan tiket, strategi dan rencana pengamanan yang baik dan terkoordinasi, serta upaya promosi harus lebih ditingkatkan. Sehingga sebuah pertandingan tidak hanya sekedar terlaksana dan memberikan untung, namun juga mampu menyuguhkan sebuah tontonan yang nyaman dan aman yang muaranya dapat menjadi kampanye kemajuan pertandingan sepakbola Indonesia.
Wasit yang terus menjadi sorotan merupakan pekerjaan rumah terpenting dari peningkatan kualitas perangkat pertandingan. Jumlah wasit di Indonesia telah mencapai ratusan, namun hanya lima orang yang bersertifikat FIFA. Jumlah yang minim untuk ukuran kompetisi sepakbola yang besar seperti Liga Indonesia.
Meski PSSI terus menggelar kursus perwasitan, namun masih sedikit wasit Indonesia yang berkualitas. Disini wasit ditantang untuk lebih memahami aturan yang berlaku, jangan sampai penonton lebih tahu aturan daripada wasit dan bagaimana aplikasi dari aturan itu berwujud sebuah ketegasan ketika wasit memimpin sebuah pertandingan di lapangan.
Mampukah sepakbola Indonesia berkembang dan bergerak maju? Butuh dukungan dari berbagai elemen dan tentunya butuh kemampuan lebih dari PSSI sebagai roda penggerak sepakbola Indonesia sekaligus sebagai fungsi regulator. Juga PT. Liga Indonesia sebagai eksekutor pelaksanaan Liga di Indonesia dan tak lupa peran masyarakat pecinta sepakbola Indonesia untuk terus mengawal rencana dan program pencapaian prestasi sepakbola Indonesia. Maju terus sepakbola Indonesia, salam sepakbola!
Posted In: Opini Sepakbola |Tags: Opini Sepakbola, PSSI, sepakbola Indonesia, solusi sepakbola Indonesia























