Pohang Steelers vs Estudiantes 1-2
Wakil Asia, Pohang Steelers harus bertekuk lutut menghadapi wakil Amerika Selatan yang diwakili oleh Estudiantes 1-2. Klub asal Korea Selatan ini gagal memenuhi ambisi untuk lolos ke final FIFA Club World Cup 2009. Dengan demikian belum ada wakil asia yang mampu melaju ke babak final setelah wakil tahun lalu, Gamba Osaka juga terhenti di semifinal.
Permainan yang diwarnai dengan sembilan kartu kuning dan tiga kartu merah ini sebenarnya berjalan berimbang. Meskipun Estudiantes unggul 2-0 terlebih dahulu melalui penyerang mereka, L.D. BenÃtez, pada menit ke 45 dan 53, namun klub yang didukung oleh pemain veteran yang pernah malang melintang di Liga Italia, Juan Sebastian Veron, harus berjuang keras untuk mengalahkan Pohang.
Pohang berhasil memperkecil ketertinggalan melalui gol Denilson pada menit ke 71, meskipun Pohang sudah harus bermain dengan sepuluh pemain karena H. Jae-Won, mendapat dua kartu kuning. Pohang semakin sulit mengejar ketertinggalan sejak K. Jae-Sung dan kiper S. Hwa-Yong mendapat kartu merah. Sang pencetak gol, Denilson, pun didaulat untuk menjadi kiper karena Pohang sudah tidak dapat mengganti pemain.
Meskipun hanya bermain dengan delapan orang, namun gawang Pohang yang dijaga Denilson tidak kebobolan lebih banyak. Hingga usai pertandingan, kedudukan tetap bertahan 2-1 untuk keunggulan Estudiantes yang berasal dari Argentina.
Apa yang dapat dipelajari dari pertandingan ini oleh Indonesia? Banyaknya kartu kuning dan kartu merah yang terjadi menunjukkan ada perbedaan persepsi antara pengadil di lapangan yang berasal dari eropa dan asia, bahkan Indonesia. Pelanggaran yang menjurus kepada mencederai lawan langsung diganjar kartu kuning bahkan merah oleh pengadil dari eropa, sedangkan bagi wasit asia, mungkin masih dapat ditolelir. Sedangkan di Liga Indonesia, mungkin sebelum kaki pemain cedera, atau pemain berteriak kesakitan, kartu kuning jarang dilayangkan.
Inilah yang harusnya menjadi sebuah pembelajaran bagi sepakbola Indonesia, bagaimana menyikapi sebuah peraturan di lapangan. Semoga saja sepakbola Indonesia mampu mengambil hikmah dari pertandingan ini, saat ini saya hanya membayangkan Persipura bermain melawan Barcelona di ajang yang sama, FIFA Club World Cup 2010, tahun depan. Mungkinkah?
Posted In: Sepakbola Dunia |






















