Jepang Gunduli Indonesia 7-0
Tim Nasional U-19 Indonesia yang sudah dua tahun berlatih di Uruguay ternyata masih kalah segala-galanya dari Jepang U-19. Tujuh Gol masuk ke gawang Indonesia tanpa mampu dibalas satu gol pun. Semakin sempit jalan Indonesia menuju putaran final Piala Asia U-19 2010. Alibi apalagi yang akan dipakai oleh PSSI dan tim pelatih U-19 Indonesia dalam pembelaan diri setelah dikalahkan oleh Jepang ini.
Di awal babak pertama kiper Indonesia Setya Beni sudah harus kebobolan oleh tendangan bebas pemain Jepang. Tanpa kesulitan berarti, para pemain jepang muda mengoyak kembali gawang Indonesia dengan tiga buah gol. Skor pada babak pertama adalah 4-0 untuk keunggulan Jepang.
Di babak kedua tidak ada perubahan berarti dalam permainan Indonesia. Yang patut disyukuri adalah stamina (mungkin karena masih muda) yang masih terjaga hingga akhir pertandingan. Namun stamina tidak cukup untuk mengalahkan Jepang yang bermain dengan kecerdasan, ketenangan dan koordinasi antar lini yang yang sangat baik. Jepang menambah tiga gol pada babak kedua hingga akhir pertandingan antara Indonesia melawan Jepang menjadi 0-7.
Kelemahan Sepakbola Indonesia
Entah program apa yang sudah disusun PSSI sebagai induk organisasi sepakbola tertinggi di Indonesia ketika memberangkatkan tim SAD Indonesia berlatih di Uruguay. Dua tahun hasil menimba ilmu di sana belum terlihat hasil apapun ketika berlaga di dua pertandingan pra Piala Asia U-19. Kelemahan tim seniornya seperti salah passing, kerjasama antar lini yang terlalu jauh dan pola permainan yang acak-acakan masih menurun pada para pemain muda Indonesia ini.
Uang yang dipakai untuk membiayai tim muda Indonesia ke Uruguay ternyata harus terbuang sia-sia. Hanya ada beberapa pemain yang menonjol di tim Indonesia, kecepatan yang dipunyai oleh Abdul Rahman Lestaluhu dan Alan Martha memang di atas rata-rata, namun yang paling menonjol adalah ketenangan Feri Firmansyah dalam menopang lini tengah Indonesia patut diapresiasi. Syamsir Alam yang diharapkan menjadi striker masa depan pun tak mampu bersaing dengan pemain belakang Singapura, yang notabene masih satu rumpun Asia Tenggara.
Kecerdasan memang sangat diperlukan dalam permainan sepakbola setelah stamina yang bagus. Teknik tinggi tanpa kecerdasan yang mumpuni tak berarti apa-apa di lapangan. Inilah yang terjadi pada timnas sepakbola senior dan yunior Indonesia. Implementasi di lapangan akibat tidak adanya kecerdasan dalam bermain adalah kerjasama yang tidak jalan dan terlalu jauhnya jarak antar lini yang menyulitkan pergerakan bola.
Rakyat Indonesia pantas kecewa dengan permainan tim garuda muda dalam dua pertandingan pra Piala Asia, namun patut disadari bahwa ternyata di Indonesia yang berpenduduk lebih dari 200 juta orang, sangat sulit menemukan pemain sepakbola yang memiliki stamina, kecerdasan, postur tubuh dan teknik yang mumpuni. Mungkin ungkapan yang pantas diungkapkan adalah ke kutub utara pun pemain sepakbola Indonesia dilatih tak akan berpengaruh banyak. Alangkah lebih baik apabila memperbanyak kompetisi di tingkat junior dan penerapan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi) dalam sepakbola.
Posted In: Sepakbola Nasional |Tags: Hasil Pertandingan, Indonesia, klasemen, pra piala asia U-19























