Piala Dunia 2022 di Indonesia?
Sebuah kabar mencengangkan dan tak diduga muncul dari mulut Ketua Umum PSSI, Nurdin Halid. Mengusung tema ‘Green World Cup’, PSSI resmi meluncurkan pencalonan diri Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022. Peresmian pencalonan Indonesia sebagai tuan rumah berlangsung di Hotel Ritz Carlton, SCBD Jakarta, Senin (9/2/2009) lalu. “Ini bukanlah ide gila, dagelan atau mimpi di siang bolong. Ini sebuah ide yang terukur dan terencana sebagai perwujudan visi PSSI 2020,” ujar Nurdin, dalam sambutan peresmian pencalonan diri Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022.
Meskipun mendapat banyak cibiran dari insan sepakbola Indonesia sendiri, harapan ini layak mendapat apresiasi dan dukungan. Mimpi ini adalah awal, selanjutnya adalah proses untuk mencapai tujuan. Menegpora Adhyaksa Dault adalah salah satu orang yang sangat mendukung program ini, “Bangsa yang paling miskin adalah bangsa yang bahkan tidak sanggup bermimpi,” tegas Adhyaksa berapi-api.
Tantangan Kinerja PSSI
Bangsa Indonesia yang porak-poranda sejak tahun 90an hingga sekarang akibat adanya konflik sosial, terorisme hingga ancaman disintegrasi bangsa telah menjungkirkan bangsa ini kedalam jurang paling kelam di mata dunia. Keterpurukan ini menyebabkan persepsi yang buruk di mata dunia. Mata uang rupiah yang anjlok, inflasi yang sangat cepat, dan pertumbuhan ekonomi yang stagnan adalah sebagian turunan dari kemerosotan citra Indonesia di mata dunia.
Sinisme dan pesimisme terhadap rencana pencalonan ini memang sangat lumrah, tubuh organisasi yang masih dinilai mandul dan ketidakpastian yang sering menghinggapi roda kompetisi sepakbola di Indonesia menjadi alasan kuat untuk mereduksi harapan tersebut. Namun inilah saatnya PSSI sebagai roda penggerak persepakbolaan Indonesia mulai bergerak memperbaiki kinerjanya, bukan hanya diam di tempat menunggu datangnya keajaiban.
Belum lama ini sebuah acara akbar pertandingan antara Manchester United (MU) melawan Indonesia All Star karena adanya aksi pemboman yang dilakukan di tempat dimana rencananya tim MU akan menginap. Meskipun pihak MU sudah menawarkan pertandingan pengganti dengan menyelenggarakan pertandingan tersebut di Kuala Lumpur, PSSI tetap tak bergeming meskipun taruhannya adalah masa depan dan kemajuan persepakbolaan di Indonesia. Inilah yang patut dikoreksi oleh segenap pengurus di tubuh PSSI, kemajuan persepakbolaan harus menjadi tujuan paling utama.
Mengawal Mimpi dan Harapan
PSSI memang sudah mulai berbenah dengan merestrukturisasi organisasinya, namun itu belum cukup apabila mentalitas pengurus PSSI masih menomorduakan prestasi sepakbola Indonesia daripada kepentingan-kepentingan politis lainnya. Paradigma PSSI sebagai lahan bisnis dengan menganaktirikan program pembinaan pemain sepakbola harus segera diubah dan direvolusi kalau ingin mimpi ini tercapai.
Disamping PSSI, masyarakat pecinta sepakbola nasional sepatutnya mempunyai peran serta dalam mewujudkan mimpi Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022. Janganlah pesismisme menghambat sebuah kemajuan, apalagi yang dipertaruhkan adalah nama bangsa. Mari kita kawal mimpi ini, teruslah bergerak jangan berdiam diri, karena mimpi tak akan terwujud hanya dengan kata-kata.
Dalam konsep pencalonan diri tersebut, proses kampanye menuju penunjukan tuan rumah untuk Piala Dunia tidak hanya memperhatikan masalah sepakbola semata, namun juga merambah ke aspek kehidupan lainnya. Terpilih atau tidak bukan masalah, namun keseriusan dalam mengkampanyekan diri yang sudah saya sebut diatas itulah yang harus kita kawal. Mari sukseskan kampanye Indonesia menuju Piala Dunia 2022, untuk mengembalikan citra dan jatidiri bangsa yang kembali terpuruk.
Salam sepakbola! Ini Kandang Kita Bung!
Posted In: Opini Sepakbola |Tags: Indonesia, Piala Dunia 2022, tuan rumah























