Sepakbola Indonesia Sepakbola Indonesia
[7 Sep 2010 | No Comment | ]

Persatuan Sepak bola Makassar (disingkat PSM Makassar) adalah sebuah tim sepak bola Indonesia yang berbasis di Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia. Pada kompetisi Divisi Utama Liga Indonesia 1999–2000, PSM berhasil menjadi juara setelah menundukkan PKT Bontang (kini Bontang FC) di final dengan skor 3-2, kala itu …

Read the full story »
Home » Opini Sepakbola

Sepakbola Indonesia yang Mati Suri

13 August 2009 4 Comments

Seringkali kita merasa lelah dan jenuh dengan prestasi sepakbola Indonesia yang selalu tidak memuaskan. Sudah banyak yang mengulas mengenai kegagalan sepakbola Indonesia, namun masih saja keterpurukan yang menjadi alamat bagi sepakbola Indonesia. Apa sih sebenarnya yang salah, sumber daya manusia melimpah, dukungan tak pernah kurang, dimana letak kelemahan sepakbola Indonesia?

Budaya instanisme yang digemari oleh rakyat Indonesia mungkin penyebabnya. Tengok saja di lemari makanan hampir seluruh rakyat Indonesia, mie instant pasti ada disana. Atau ketika anda mengajak rekan anda untuk makan? Jawabannya tidak lebih dari makan dimana, bukan ayo kita bikin makanan apa. Kepentingan perut dalam analogi saya tersebut bisa jadi sudah menjalar hingga sel darah setiap rakyat Indonesia.

Sepakbola Indonesia setali tiga uang dengan pikiran rakyat Indonesia kebanyakan. APBD adalah salah satu program instant yang selama ini digemari oleh klub sepakbola di Indonesia. Menggerakkan klub sepakbola sebagai akar sepakbola nasional pun masih menodong pemerintah daerah setempat untuk menggelontorkan dana, berapa klub sih yang mampu hidup tanpa dibiayai APBD?

Sepakbola sebagai sebuah lahan bisnis (baca : industri) yang selama ini menjadi jargon BLI (kini PT. Liga Indonesia/ LIGA) seolah hanya menjadi puisi yang memperindah sepakbola Indonesia semata. Pembinaan tanpa wadah adalah kosong, sebagus apapun pembinaan tanpa wadah tidak akan menghasilkan apapun. Namun wadah (klub) di indonesia hanya mampu berdiri dengan tongkat penyangga, tak bisa berjalan dengan kaki sendiri.

Regulasi Yang Tak Bertaji

Regulasi dalam sepakbola Indonesia kalau dibukukan seluruhnya sebenarnya sudah bisa memenuhi sebuah rumah. Dari manual pertandingan hingga buku sanksi pelanggaran, namun apalah artinya ketika regulatornya tak kuasa menahan tangan-tangan intervensi dalam sepakbola Indonesia. PSSI yang semestinya memposisikan sebagai regulator yang paling berkuasa dalam sepakbola Indonesia malah sering mengintervensi sebuah keputusan tanpa alasan yang jelas.

Masih ingat kasus mantan striker Christian Gonzales, kiper muda Arema Kurnia Mega, hingga manajer PSIS Yoyok Sukawi. Hukuman yang sudah dijatuhkan, langsung lenyap dengan adanya sebuah hak prerogatif yang menafikan proses pembinaan secara utuh dalam sepakbola Indonesia. Atau ketika kasus mogok bermain Persipura, para regulator dengan enak, turun ke lapangan dan menginjak-injak rumput peraturan yang sedang dibangun.

Belum lagi kasus APBD yang masih menjadi nyawa klub sepakbola di Indonesia, sampai kapan akan dibiarkan seperti sekarang. APBD hanya racun yang akan membunuh klub Indonesia, apabila tidak segera dikeluarkan dari tubuh industri sepakbola Indonesia. Kalau berani ekstrim, larang klub menggunakan dana rakyat tersebut. Biarkan hukum alam yang akan menyeleksi, klub mana yang masih mampu bertahan hidup.

Inilah yang dibutuhkan sepakbola Indonesia, keberanian untuk melakukan revolusi bukan hanya reformasi semu. Mencontek tulisan om Bambang Haryanto dalam tulisannya menyambut HUT ke-9 Suporter Nasional, “rekan-rekan suporter, jadilah kalian sebagai blogger”. Maka saya ingin mendorong suporter Indonesia, untuk menjadi garda pertama yang menolak APBD menjadi nyawa bagi klub kesayangannya. Prestasi klub adalah semu tanpa ada prestasi sepakbola dalam skala yang lebih besar dari wilayah nasional.

APBD bukanlah nyawa, namun racun yang mematikan sepakbola itu sendiri, masih ada lumbung dana yang lain tanpa menggali uang rakyat.

Posted In: Opini Sepakbola |

Tags: , , , ,

Infogue.com Infogue.com

4 Comments »

  • anonimus says:

    hmm…kritik tanpa solusi y! boleh jg. kalo mau ekstrim, brarti revolusi donk, bukan evolusi. pikir donk, emg gampang cari uang. klo klub dilarang pake uang APBD, trus dpt drmn..sponsor? sdh pnh nyoba blm, perjuangan utk memperoleh sponsor tu gmn. apalg utk mndpt kontrak uang yg besar, y sponsor pst berpikir apa timbal baliknya utk mereka.

    • masindra says:

      Bukan tanpa solusi, sebenarnya banyak solusinya…salah satunya seperti menggandeng investor untuk mengelola klub. Persikad Depok, Pro Duta, Arema Malang, sudah memulainya…kenapa tidak bisa, lalu bagaimana pengelolaan klub menurut anda? Kesulitan mencari sponsor menurut saya mungkin hanya karena kita tidak mengenal product knowledge nya, bukan karena tidak ada yang bisa dijual ke sponsor. Jadi paradigma yang semestinya dipakai adalah mengindustrikan sepakbola bukan memonopoli sepakbola, kalau tidak bisa mengelola klub sepakbola ya jangan mengelola klub, serahkan kepada yang bisa dan punya modal, bukan begitu?

  • [...] meminta grasi dari Ketua Umum PSSI dengan hak prerogatifnya. Alamak, mau dibawa kemana sebenarnya sepakbola Indonesia kita tercinta ini? Share and [...]

  • [...] pencinta sepakbola di Indonesia merasa gemas dengan prestasi sepakbola bangsa ini. Seringkali kita membaca dalam sebuah tulisan atau mendengar dari pembicaraan, betapa sulitnya [...]

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar....