Dagelan Baru PSSI
Kebijakan Badan Tim Nasional (BTN) dengan melarang pemain yang dipanggil ke dalam tim nasional (timnas) untuk membela klub selama pelatihan nasional (pelatnas) dilangsungkan merupakan sebuah kebijakan yang sangat tidak membangun. Sebuah kebijakan yang tidak populer dan merugikan sepakbola Indonesia secara brutal. Kehidupan sepakbola Indonesia secara profesional dan bisnis telah dirusak oleh kebijakan ini.
Dua puluh lima (25) pemain telah dipanggil oleh Badan Tim Nasional Indonesia (BTN) untuk mengikuti Pelatnas pra Piala Asia (PPA) 2011 yang akan dimulai 25 September. Mereka akan “dipinjam” oleh BTN paling tidak hingga 18 November, usai Indonesia menjamu Kuwait di Jakarta. Kalau kebijakan itu diterapkan, maka klub tidak bisa memainkan pemainnya hampir dua bulan.
Bahkan, kemungkinan pelatnas diperpanjang lagi untuk persiapan menghadapi Oman 6 Januari 2010 di Jakarta, sebelum melakoni laga terakhir Grup B PPA di kandang Australia (3 Maret 2010). Yang artinya pemain yang dipanggil membela negara akan mengabaikan klub yang membayarnya lebih dari setengah musim kompetisi.
BTN Egois, BLI Mandul!
BTN menganggap kebijakan ini sudah layak dengan adanya kompensasi gaji bagi pemain yang dipanggil ke dalam timnas. Gaji sebesar 20-25 juta dianggap layak untuk mengorbankan dana klub hingga ratusan juta. Dengan ancaman sanksi terhadap pemain dan klub yang menolak kebijakan ini, mau tidak mau mereka (pemain dan klub) harus menerimanya.
Badan Liga Profesional Indonesia (BLI) sebagai penyelenggara Liga Profesional Indonesia pun seolah cuci tangan dan merelakan racun yang ditebar BTN ini membunuh Liga Profesional perlahan-lahan. “Larangan itu sebenarnya tidak ada di manual liga. Namun PSSI berhak menabrak hal tersebut karena PSSI adalah induk organisasi sepakbola Indonesia. BLI di sini fungsinya hanya sebagai eksekutor dari peraturan PSSI itu. Kami ikuti saja peraturan itu,” kata Joko Driyono, CEO BLI.
BTN membuka diri kepada publik bahwa tidak ada program secara sistematis dalam pola pikirnya. Rencana MU mengundang Indonesia ditolak, agenda uji coba dibatalkan, sungguh membuat miris dan menghancurkan timnas itu sendiri. Kompetisi sebagai dasar pembinaan dan klub yang menopang pembinaan telah dikebiri oleh kebijakan ini. Bagaimana mungkin sepakbola Indonesia akan maju kalau kebijakan selalu diagendakan secara mendadak seperti ini?
Sebelum pelatnas dan kompetisi digelar, sebaiknya segera memikirikan solusi terbaiknya dengan duduk bersama klub untuk memikirkan apa yang terbaik bagi sepakbola Indonesia. Jangan biarkan sepakbola Indonesia yang sedang mati suri ini, jatuh lebih dalam dengan menggali kuburannya sendiri.
Posted In: Opini Sepakbola |Tags: Badan Tim Nasional, kebijakan PSSI, klub sepakbola, timnas Indonesia
























[...] Sepakbola selalu identik dengan fanatisme pendukungnya, seringkali fanatisme ini menjurus pada sebuah perilaku yang negatif. Kecurangan dan kekalahan menjadi sebuah alasan pembenaran dalam tindakan anarkisme. Slogan yang selalu dicanangkan dalam setiap kegiatan sepakbola “Fair Play” seringkali ditabrak oleh arogansi ego yang berlebihan. [...]
Badan Tim Nasional (BTN) memang hanya ingin “terima bersih”. Tidak kreatif untuk menciptakan persaingan antarpemain yang dapat memotivasi mereka menjadi lebih baik. Selain itu, ada ketakutan berlebihan dari BTN bahwa jika pemain cidera, maka Timnas akan rugi. Padahal, setiap pemain yang cidera saat membela PSSI, belum tentu dibantu pengobatannya sampai sembuh oleh PSSI.
Sepertinya butuh kritik ;ebih keras dan cerdas kepada PSSI dan BTN untuk kemajuan sepak bola nasional. Selama kedua lembaga itu masih dihuni para oportunis selaku pembuat keputusan dan kebijakan, sepak bola Indonesia hanyalah sekedar hiburan di sore menjelang malam semata… Tidak memberi kontribusi bag nama besar dan keharuman nama bangsa…
hmm nice blog and thanks for the valuable infos.