APBD, Racun Sepakbola Indonesia
Klub sepakbola Indonesia sebenarnya sudah dilarang menggunakan APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah), sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 13/2006 yang direvisi menjadi Permendagri Nomor 59/2007. Klub tidak boleh lagi menerima dana dari APBD berupa hibah dan bantuan sosial secara berulang. Saat ini, hanya 3 klub sepakbola yang tidak menerima dana dari APBD (semoga tidak salah, mohon dikoreksi) yaitu Pelita Jaya, Arema Malang dan Semen Padang. Rata-rata klub sepakbola Indonesia menghabiskan uang rakyat melalui APBD sebesar 10 milyar rupiah.
Namun aturan di atas masih saja bisa dicari celahnya oleh klub sepakbola di Indonesia. Padahal dana APBD ini layaknya sebuah racun yang akan mematikan klub sepakbola itu sendiri secara pelan-pelan. Lihat saja klub Persitara, PSIS bahkan Persik Kediri, mereka kelimpungan ketika dana APBD itu sedikit tersendat bahkan urung diterima. Ada baiknya klub segera mencari pos dana lain selain APBD untuk menyelamatkan eksistensinya.
Bisnis Sepakbola
Dengan penggunaan dana APBD, sepakbola masih dianggap cost center (pengeluaran). Roda bisnis sepakbola menjadi mandul karena klub tergantung pada dana rakyat ini. Padahal prospek bisnis sepakbola di Indonesia sangat bagus. Bayangkan saja, rata-rata pecinta sepakbola yang menonton langsung di stadion berkisar pada angka 10 ribu. Kalau dalam satu minggu terdapat 18 kali pertandingan, berarti yang menonton langsung di stadion ada sekitar 180 ribu per minggu. Belum lagi yang menonton di rumah melalui siaran langsung di televisi.
Kenyataan itu seharusnya mampu dimanfaatkan oleh manajemen bahkan pemilik klub untuk mencari alternatif dana selain dana hibah dan sumbangan APBD. Paradigma pemilik klub sepakbola beserta manajemennya harus berubah, sepakbola bukan lagi menjadi cost center tetapi dirubah menjadi profit center. Di belahan dunia Eropa, pemasukan klub dari penjualan kontrak pemain sangat tinggi, lihat saja transfer Christiano Ronaldo dari MU ke Real Madrid yang mencapai 1,2 triliun. Klub Indonesia akan sulit mengontrak pemain lebih dari 1 tahun karena dana utamanya harus dicairkan per tahun, sulit menemukan transfer pemain di sepakbola Indonesia.
Apakah klub Indonesia akan tetap menggunakan uang rakyat untuk tetap berpartisipasi di liga Indonesia tahun depan? Semoga saja tidak. Bicara sepakbola, stop dreaming start action, untuk mencapai klub sepakbola yang profesional tanpa bergantung kepada uang rakyat. Muaranya adalah kemajuan sepakbola Indonesia yang dimulai dari berkembangnya bisnis sepakbola Indonesia.
Posted In: Opini Sepakbola |Tags: APBD, bisnis sepakbola, sepakbola Indonesia
























[...] Jakarta yang tak lagi menggunakan dana APBD sebagai bahan bakar klubnya, berencana merekrut beberapa pemain dan pelatih hebat. Dengan dana 30 [...]
[...] tidak berkualitas akan lebih bijak daripada harus memaksakan menggunakan pemain asing di tengah kondisi keuangan klub yang masih berantakan. Toh suporter Indonesia sudah sedemikian fanatik dalam mendukung klubnya terlepas klub itu memiliki [...]
[...] duduk bersama klub untuk memikirkan apa yang terbaik bagi sepakbola Indonesia. Jangan biarkan sepakbola Indonesia yang sedang mati suri ini, jatuh lebih dalam dengan menggali kuburannya sendiri. Share and [...]
[...] yang masih menjadi nyawa klub sepakbola di Indonesia, sampai kapan akan dibiarkan seperti sekarang. APBD hanya racun yang akan membunuh klub Indonesia, apabila tidak segera dikeluarkan dari tubuh industri sepakbola [...]
[...] saya inilah potret belum profesionalnya sepakbola Indonesia, APBD sudah menjadi candu bagi klub yang tidak disadari telah menjauhkan mereka dari sikap profesional dan membunuh mereka [...]